Minggu, 29 November 2015

Budaya dan Adat Istiadat di Jepang


  Sejak membuka diri terhadap dunia luar pada masa Kekaisaran Meiji, Jepang banyak mengadopsi budaya barat. Namun, kebudayaan tradisional Jepang tetap terpelihara dengan baik. Salah satu faktor yang membuat wisatawan datang ke Jepang adalah untuk menyaksikan budaya Jepang secara langsung, walaupun negara itu sudah sangat maju. Cukup banyak seni dan kebudayaan Jepang yang
masih ada sampai saat ini. Beberapa diantaranya yang dianggap klasik dan cukup terkenal sampai saat ini yaitu upacara Matsuri, Kabuki, Upacara minum teh, Ikebana dan  Sumo.

1. Matsuri
    Bagi para pecinta Jepang, mungkin sudah tidak asing dengan kata matsuri. Tapi apa sebenarnya matsuri itu? 


Matsuri berarti festival atau hari raya. Di Jepang, matsuri atau festival biasanya diadakan di akhir musim panas atau awal musim gugur, dan terkadang matsuri juga diadakan untuk mensyukuri hasil panen atau tangkapan ikan. Beberapa matsuri yang terkenal di Jepang antara lain, yaitu:
  • Seijin Shiki atau Upacara orang dewasa biasanya dilakukan dengan mengundang penduduk yang usianya sudah 20 tahun.
  • Hina matsuri adalah festival yang dirayakan setiap tanggal 3 Maret di Jepang yang bertujuan untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan.
  • Hanami berarti melihat bunga. Perayaan ini biasanya diadakan pada musim semi untuk melihat keindahan bunga Sakura.
  • Natsu Matsuri atau Festival musim panas bisa dibilang festival terbesar di Jepang. Festival ini dilakukan untuk menghormati leluhur mereka dan terdiri dari serentetan perayaan.
  Beberapa dari kalian (termasuk saya hehe) mungkin ingin merasakan meriahnya Matsuri atau Festival Jepang. Tapi kalau kalian belum sempat menapakkan kaki di Negeri Sakura, kalian juga bisa mencoba merasakan meriahnya Matsuri. Karena Matsuri tidak hanya diadakan di Jepang saja, di negara-negara lain (termasuk Indonesia) juga ada perayaan Matsuri. Beberapa Festival Jepang sering diadakan  di Indonesia yaitu Ennichisai Little Tokyo yang biasa diadakan pada bulan Mei di di Blok M, Jakarta dan Jak Japan Matsuri yang biasanya diadakan pada sekitar bulan Juni-September di Jakarta. Namun, tidak hanya itu. Terkadang beberapa festival lain diadakan oleh lembaga-lembaga atau kampus-kampus yang berkaitan dengan kebudayaan Jepang.

Kemeriahan Festival Ennichisai Little Tokyo 2015.

2. Kabuki
Kesenian Kabuki merupakan tontonan teater klasik dengan dialog yang berirama, Para pemain Teater ini di dandani secara mencolok dan sangat mewah.


Kabuki dimulai pada tahun 1603, dan sampai saat ini, Kabuki masih menjadi salah satu seni tradisional yang sangat menarik dan selalu membuat penontonnya selalu terpukau. Yang menarik dari Kabuki ini adalah semua pemainnya laki-laki. Mengapa tidak ada wanita? Pada zaman Edo, seni teater Kabuki mengalami revolusi. Pada saat itu, ada pelacuran terselubung dalam seni teater Kabuki sehingga membuat pemerintah harus menjaga moral masyarakat dengan melarang wanita ikut serta dalam memerankan teater Kabuki. Meskipun kini larangan itu sudah dicabut, namun kelompok komunitas Kabuki masih tetap setia mempertahakan aturan tersebut.

3. Upacara Minum Teh
Upacara diadakan teh atau biasa di sebut Chanoyu adalah tradisi minum teh yang sudah dikenal oleh bangsa Jepang sejak abad ke-9, dan tradisi ini dibawa oleh biksu Jepang, Eichu yang saat itu baru kembali dari China. Chanoyu dalam bahasa Jepang berarti "air panas untuk teh". Istilah Chanoyu juga dikenal dengan sebutan Chadou atau Sadou.
    

 Dalam upacara ini, teh disediakan oleh seorang ahli khusus dan disediakan untuk sekelompok kecil orang dengan tata cara tertentu. Biasanya teh dituang ke dalam cawan dan harus diangkat setinggi bahu dan diteguk sampai habis. Upacara minum teh biasa diadakan di sebuah ruangan yang disebut chashitsu, namun ada juga upacara minum teh yang diadakan diluar dan biasa disebut nodate.

  Teh tidak hanya dituang dengan air panas lalu di minum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup tujuan hidup, cara berpiki, agama, dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.

4. Ikebana
Ikebana adalah seni merangkai bunga yang berasal dari Jepang yang dimulai pada abad ke-13 dan berakar pada ajaran agama Buddha.


  Ikebana berasal dari kata "Ikeru" yang berarti merangkai atau memeberikan kehidupan dan kata "Hana" yang berarti bunga. Untuk bisa membuat rangkaian bunga ini dibutuhkan teknik dan keterampilan khusus yang  perlu dipelajari selama tiga sampai lima tahun. Seni merangakai bunga ini juga diajarkan di beberapa sekolah di Jepang. Meskipun pada umumnya orang yang membuat Ikebana ini adalah kaum wanita, namun ada juga kaum pria yang membuat Ikebana sebagai mata pencaharian.

5. Sumo
Sumo adalah olahraga tradisional Jepang yang sudah dipertandingkan sejak 2000 tahun yang lalu. Pada awalnya, Sumo adalah ritual yang  diadakan untuk menghormati para dewa yang telah memberkati pertanian yang diadakan bersama tarian-tarian di halaman kuil. Namun, seiring perkembangan zaman, teknik dan aturan Sumo mulai dirumuskan dan dikembangkan sehingga pertandingan sumo lebih mirip dengan yang ada sekarang.


Sumo dilakukan oleh dua orang pegulat sumo (rikishi) yang berbadan gemuk dengan cara saling dorong sampai salah satunya terdorong keluar dari lingkaran (dohyo) atau terjatuh dengan bagian badan (selan telapak kaki) menyentuh tanah di bagian dalam lingkaran. Pegupat Sumo perlu berbadan gemuk, karena semakin gemuk semakin besar pula kemungkinan untuk menang. 

Selain seni dan budaya tradisional Jepang, dalam kehidupan sehari-hari orang Jepang juga memiliki kebiasaan yang kuat dalam hal disiplin, ketertiban, sopan santun dan kebersihan. Ketepatan waktu merupakan sikap disiplin yang kuat dari orang Jepang. Dalam hal ketertiban, orang Jepang sudah terbiasa mengantre di area publik. Untuk sopan santun, mereka memberi salam dan membungkukan badan pada orang yang lebih tua atau yang lebih tinggi pangkatnya dan juga kepada orang yang baru dikenal.

Dalam hal kebersihan, alas kaki dari luar rumah dianggap kotor. Di Jepang, sering kali pengunjung diwajibkan untuk membuka alas kaki ketika memasuki sebuah ruangan. Kadang, ada sendal khusus yang disediakan untuk dipakai didalam ruangan, bahkan ada juga sendal khusus toilet.

Ikan Koi bisa hidup di saluran air karena tingkat kebersihan airnya yang tinggi.


Jepang juga terkenal dengan budaya malu. Mereka bersedia mundur dari jabatannya jika ketahuan berbuat curang atau tidak jujur. Perbuatan tidak baik dianggap hal yang memalukan. Dalam tahap yang ekstrem, mereka bisa bunuh diri kalau merasa bersalah dan gagal total. Karena itu Jepang dikenal sebagai negara dengan tingkat bunuh diri paling tinggi di dunia. 

Walaupun dunia otomotif berkembang pesat di Jepang, orang Jepang lebih suka naik transportasi publik seperti kereta dan bus dibanding mobil atau motor. Selain itu budaya jalan kaku juga merupakan salah satu ciri khas Jepang. Tata letak kota dirancang cukup nyaman untuk pejalan kaki. Musalnya, di sekitar Shibuya atau Asakusa, kita bisa melihat orang berlalu lalang dan berjalan kaki.

Orang-orang berjalan kaki di Shibuya.

Selain yang sudah disebutkan diatas, masih banyak budaya dan adat istiadat Jepang yang lainnya yang akan kita bahas dilain waktu. Sampai jumpa ^^



Tidak ada komentar:

Posting Komentar